Prof. Dr. Rd. Mulyadhi Kartanegara di Mata Murid-muridnya

Note: ini adalah tulisan terakhir sebagai bagian dari buku YOU ARE MY INSPIRATION, satu dari hampir 50 tulisan (tribute) dari mahasiswa-mahasiswaku untukku sebagai guru mereka. Masih menunggu tulisan yang sudah dijanjikan.

Profesor Mulyadhi Kartanegara: Guru dan Model Saya

Oleh Abu Aly
Penulis buku Best Seller
Pawang Manusia

Profesor Mulyadhi Kartanegara adalah lautan ilmu. Dan saya adalah tetesan air laut yang menjelma menjadi gelombang. Bukan Buih. Profesor Mulyadhi adalah pohon mahoni besar, lengkap dengan batang keras menjulang ke atas. Dan saya salah satu buah coklatnya yang moga dapat berkhasiat.

Pak Mulyadhi adalah guru besar Filsafat Islam – sekarang emiritus- UIN Syahid Jakarta. Dia ajarkan ajaran-ajaran pokok filsafat (Islam) yang sulit itu menjadi kuliah tatap muka yang menarik di tengah kelas. Dari Rumi sampai Al Hallaj. Dari Al Ghazali sampai Dr. Mohammad Iqbal – pendiri negara Pakistan. Kuliah Pak Mulyadhi ternyata tak terbatas di kelas. Di berbagai forum, berbagai lembaga, di banyak tempat. Beliau selalu berbagi. Ilmunya dalam, hingga jika intens, kita akan hanyut, terbawa arus besarnya. Kita juga menjadi bangkit sekaligus terlecut – karena pikiran-pikiran segarnya yang indah cemerlang, dan terutama menggugah kesadaran nur;ani. Saya, misalnya, yang tengah haus – dalam air ilmu, karena Filsafat saya yang “masih S1” – diminuminya ‘madu’. Hingga haus itu terobati. Dahaga ilmu saya, dalam rentang (waktu) yang panjang pada gilirannya, berubah dan berbuah menjadi bentuk pencarian diri atas kalam dan hikmah yang nyaris tak pernah istirah. Tak mengenal kata menyerah.

Setelah membaca lebih 10 bukunya (yang mengalir deras), –seperti Mozaik Khazanah Islam Bunga Rampai dari Chicago (2000), Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam (2006), Mengislamkan Nalar Sebuah Respons Terhadap Modernitas (2007), Filsafat Islam, Etika dan Tasawuf (2009)–saya kerap menuliskan beberapa bentuk kesan. Tribute, pujian, keresahan, juga harapan. Di kiri-kanan lembar bukunya yang bernas. Sampai satu titik terdorong saya untuk berkaca, melalui tanya: mengapa tak menulis “kalimat panjang” sendiri – mengikut jejak guru yang bijak? Bukankah modal pengalaman (hidup) saya lumayan (banyak)? Pergaulan luas saya, dengan berbagai lapisan di kampus dan aktivis di masyarakat, dalam dan luar negeri, cukup mendukung, bukan? Tinggal dikristalkan – setelah proses perenungan usai.

Sambutannya ‘tumpah’ saat saya sampaikan niat ingin jadi penulis buku. Go ahead, Saleh! Please, write your own thinking, experience, your ‘climbing’ and opinion. Meledaklah semangat saya untuk segera menulis. Menulis dan menulis. Mumpung masih diberi kesempatan – yang tak setiap orang punya. Masih ada kehidupan, mumpung masih sehat; tuk kumpulkan bekal bagi perjalanan yang abadi. Buku memperpanjang perjalanan -sekaligus penjelajahan- intelektual seseorang. Termasuk, dan mudah-mudahan, saya.

Buku pertama Pawang Manusia (2008) pun alhamdulillah terwujud. Rasa syukur itu bertambah besar karena buku pertama saya best seller. Kerjasama dengan Elex Media penerbit berlanjut (karena partnership adalah hukum besi yang berlaku di mana saja), dengan Jual Diri Untuk Impian (2009), Cahaya Nurani (2010), Matahari Sukses (2010), Manusia Target (2014), Problem Solver (2016) bersama Jemmy Setiawan, Komunikasi Lancar Prestasi Berkibar (2017) bersama dengan Pak Yana. Saya -jujur, sebenarnyalah- berkeinginan lebih dari itu: 10 tahun terbit tujuh buku. Tapi satu kesyukuran sekaligus tribute untuk beliau wajib ditegaskan – bahwa hadiah buku Prof. Mulyadhi berhasil menjadi (‘beranak jadi’) buku. Azam dan niat saya yang tertulis di kertas pada tarih 22/11/2011 kesampaian, terwujud sudah. Bunyi dream itu sungguh ringkas : Prof. Mulyadhi Kartanegara idolaku. Aku ikuti Jejaknya (Abu Ali, 22/11/2011).
Saya jumpa Profesor -agak akhir- 17 Februari 2015. Seperti sebelumnya, saya diberi buku. Buku yang diberikannya Filsafat Islam, Etika dan Tasawuf Sebuah Pengantar, penerbit Ushul Press, UIN Syahid, Jakarta (2009). Semangatnya -yang kemudian menjadikan saya (makin) bersemangat- adalah pada kata yang tertulis di situ: to Abu Aly – with all best wishes! Beliau yang sepuh tak berhenti dan terus melecutku untuk terus berbuat – dengan praktik dan bukti amalan terbaik dalam hidup ini.
Ada tambahan (semangat). Prof Mulyadhi – walau tinggal di Jakarta- pernah memimpin dan menjadi Direktur Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS, Centre for Religious and Cross Cultural-Studies) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Selama tiga tahun (2001-2003), Prof Mulyadhi memimpin lembaga yang berhidmat di bidang keilmuwan dan studi lintas budaya itu dengan gembira. Mahasiswa peminat studi S2 dan S3 makin banyak; dengan fasilitas beasiswa yang lumayan banak. Pengalamannya di Amerika (khususnya Universitas Chicago, saat menyelesaikan studi S3, Filsafat), dan pergaulan intelektualnya di seantero kota dunia dan di Indonesia, menjadikannya mudah membawa ‘gerbong’ di aktiviatas CRCS UGM yang terus berkembang dan berprestasi menjulang.
Jika di Iran ada father of doctor, yaitu ibn Sina (otodidak menguasai sembilan ilmu: kedokteran, psikologi, filsafat, ilmu umum, sastra, kimia, politik dan hukum, geografi, musik), di UIN Jakarta -terakhir, berkarier di Universitas Brunei Darussalam- ada Profesor Mulyadhi yang menulis disertasi di Universitas Chicago dalam bahasa Arab. Judul disertasi Mukhtashar Siwan al Hikmah; artinya Pustaka Kebijaksanaan, yang berisi sekitar 1000 kata mutiara dari 60 filsuf Yunani dan 13 filsuf Muslim. Pantas saja. Pernah menulis -yang berarti menyelami pikiran terdalam 70 filsuf dunia! Pastilah bacaan bukunya tak main-main. Tentu, kefasihannya berbahasa Arab dan Inggris tak diragukan lagi. Bagus juga diperhatikan dan dibaca buku ini. Esai pemikiran filosofisnya selama dua dekade (1986-2005) dirangkukm dalam buku Mengislamkan Nalar Sebuah Respons Terhadap Modernitas (Penerbit Erlangga, Jakarta, 2007). Isinya substantif: 1) Islamisasi Ilmu, 2) Revitalisasi Ilmu-ilmu Rasional, 3) Menjawab Kritik Ilmiah-Filosofis atas Agama, 4) Antara Kaum Fundamentalis dan Liberal, 5) Masyarakat Madani dalam Perspektif Budaya Islam, 6) Pengaruh Mistisisme Atas Fisika Baru, 7) Perempuan dalam Karya Filsafat,  Teori Evolusi Rumi, 9) Etika LIngkungan : Perspektif Sufistik.
Puisi Rumi berikut dapat disebut mewakili tulisan Evolusi Rumi, dalam (renungan filosofis) tulisan Prof Mulyadhi.

Bagi orang bijak langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan
Bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan dari langit
Ketika bumi kedinginan, langit mengirimkan kehangatan
Ketika bumi kekeringan, langit mengirim embun atau hujan.
Langit berputar seperti suammi mencari nafkah demi sang istri.
Sedangkan sang istri menerima pemberian dari sang suami.
Langit dan bumi pastilah dikaruniai kecedasan,
Karena mereka melakukan pekerjaan makhluk yang cerdas.
Andai pasangan ini tidak mengenyam kebahagiaan,
Bagaimana mereka melangkah seperti sepasang kekasih? (Kartanegara, 2007:139)

Evolusi
Mula-mulai manusia lahir pada tingkat benda
Dari alam benda mereka masuk ke alam tumbuhan
Bertahun-tahun ia hidup sebagai tumbuhan
Ia tidak ingat lagi keadaannya dahulu yang begitu jauh berbeda.
Dan ketika dari alam tumbuhan, ia masuk ke alam hewan.
Ia pun sama sekali tak ingat lagi keadaannya sebagai tumbuhan.
Hanya timbul rasa senanga pada tumbuh-tumbuhan
Lebih-lebih pada musim semi dan musim bunga yang rupawan
Seperti bayi menyukai ibunya
Ia suka pada teteknya tanpa tahu mengapa
Sekali lagi Sang Pencipta Agung memindahkannya
Dari alam hewa k ealam manusia
Demikianlah dari satu alam ke alam lainnya ia bergerak
Sehingga ia menjadi pandai, perkasa, dan bijak (Kartanegara, 2007:143)

Pikiran berikut ini juga melecut saya – mungkin juga cendekiawan yang memiliki kesadaran prima. Menurut Prof Mulyadhi Kartanegara, setiap ilmuwan muslim; secara sendiri maupun berjamaah dalam organisasi sementara atau permanen, di perguran tinggi atau masyarakat- perlu melakukan secara (amat) sungguh-sungguh tak kenal lelah sembilan kegiatan Ilmiah (Bab V). Ia menyebut Sembilan kegiatan yang wajib dilakukan intelektual muslim secara serius; yaitu
1) memburu manuskrip,
2) menerjemahkan,
3) menulis komentar/ ringkasan,
4) menulis karya orisinal,
5) menyalin dan distribusi buku,
6) rihlah dan khalwat,
7) diskusi ilmiah dan seminar, tradisi kritik, dan
9) eksperimen. Ini termuat dalam Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam (Jakarta, Penerbit Baitul Ihsan, Bank Indonesia, 2006), p.75.
Prof Mulyadhi adalah guru inspiratif. Juga model bagi banyak orang, tak terkecuali saya. Ungkapan berikut tampak sangat cocok dengan guru sekaligus model saya ini:
The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires (William Arthur Wart). Doa saya selalu untuk Profesor Mulyadhi: khairun nas man thala umruhu wa hasuna amaluhu; sebaik-baik manusia adalah yang panjang umur dan bagus amalnya. Semoga Prof. Mulyadhi panjang umur, manfaat, maslahat. Kita reuni di sorga, insya Allah
………….Abu Aly. 8 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.